Mewariskan Pengetahuan, Melestarikan Peradaban

Telaah Pararaton Ungkap Dugaan Rute Petualangan Ken Angrok di Malang Raya

A
admin
11 Agustus 2026
Estimasi 2 mnt baca
Telaah Pararaton Ungkap Dugaan Rute Petualangan Ken Angrok di Malang Raya

 

Kajian terhadap naskah Pararaton mengungkap dugaan rute perjalanan Ken Angrok di kawasan Malang Raya melalui pendekatan filologi, geografi historis, historiografi, dan kajian toponimi.

Kajian tersebut dipaparkan Heri Purwanto, S.Si. dalam Seminar Srawung Budaya Aksara Kawi di Kota Malang pada 5 Juli 2026. Paparan itu kemudian disunting dan dikembangkan menjadi artikel ilmiah.

Dalam paparannya, Heri menjelaskan Pararaton merupakan salah satu sumber penting untuk mengkaji sejarah Wangsa Rajasa, yang berkuasa di Kerajaan Tumapĕl dan Majapahit.

Namun, ia menegaskan Pararaton merupakan sumber sekunder dalam kajian sejarah. Karena itu, naskah tersebut perlu dibaca secara kritis dan dibandingkan dengan prasasti serta naskah kuno lainnya.

Heri menjelaskan penelitiannya banyak merujuk karya arkeolog Suwardono dalam buku Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok (2013). Analisis tersebut diperkuat melalui kunjungan lapangan bersama sejumlah pegiat bahasa dan aksara Jawa Kuno.

Menurutnya, rekonstruksi perjalanan Ken Angrok dimulai dari Pangkur yang diperkirakan berada di sekitar Daerah Aliran Sungai Metro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Karuman yang diduga berada di Kelurahan Tlogomas, Kota Malang. Di lokasi itu, Ken Angrok diceritakan menjadi anak angkat Bango Samparan.

Tahap berikutnya berlangsung di Sagĕnggĕng yang diperkirakan berada di Desa Wonokerso, Kecamatan Pakisaji. Di tempat itu, Ken Angrok disebut berguru dan mempelajari wujud aksara Kawi.

Setelah itu, kisah berlanjut ke Sañja dan Lulumbang yang diperkirakan berada di kawasan Songgoriti, Kota Batu. Di lokasi tersebut, Ken Angrok dikisahkan memesan keris kepada Mpu Gandring.

Perjalanan berikutnya menuju Turyantapada yang diduga kini menjadi Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Di sana, Ken Angrok belajar menjadi pengrajin emas kepada Mpu Palot.

Rute kemudian berlanjut ke Gunung Lĕjar hingga Taloka yang diperkirakan berada di Desa Talok, Kecamatan Turen. Di lokasi itu, Ken Angrok bertemu pendeta Lohgawe.

Heri menilai kisah Ken Angrok tidak hanya menggambarkan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan intelektual dan spiritual.

Ia juga menyampaikan, sejumlah pegiat budaya telah melakukan napak tilas berdasarkan rekonstruksi rute tersebut. Kegiatan itu melibatkan komunitas dari Malang dan Bali.

Menurut Heri, rekonstruksi rute Ken Angrok memiliki nilai akademik sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai media pendidikan, pariwisata sejarah, dan ekonomi kreatif berbasis warisan budaya.

 

Rekomendasi Bacaan

Artikel Terkait