Candi Singhasari di Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, merupakan peninggalan masa Singhasari yang berkaitan dengan pendharmaan Raja Kertanegara. Hubungan candi ini dengan aksara Kawi terutama diketahui melalui Prasasti Singhasari atau Prasasti Gajah Mada bertarikh 1351 Masehi. Prasasti tersebut dipahat menggunakan aksara Jawa Kuno atau Kawi dan berbahasa Jawa Kuno, serta memuat keterangan tentang pendirian atau penyelesaian bangunan suci caitya untuk mengenang Kertanegara dan tokoh-tokoh yang gugur bersamanya.
Candi Singhasari—juga ditulis Candi Singasari atau Candi Singosari—merupakan bangunan cagar budaya di Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi ini berkaitan erat dengan Kerajaan Singhasari dan umumnya dipahami sebagai bangunan pendharmaan untuk Raja Kertanegara, raja terakhir Singhasari yang wafat pada 1292 Masehi. Data resmi kebudayaan pemerintah mencatat Candi Singosari sebagai cagar budaya kategori struktur.referensi.data.kemdikbud.go
Nama “Singhasari” lazim digunakan dalam kajian sejarah dan epigrafi, sedangkan “Singosari” merupakan bentuk yang sangat umum dipakai untuk nama kecamatan dan kawasan sekarang. “Singasari” juga sering muncul dalam literatur populer.
Sejarah dan fungsi
Candi Singhasari berada di kawasan pusat pemerintahan Kerajaan Singhasari atau Tumapel. Kertanegara memerintah sekitar 1268–1292 Masehi dan dikenal memiliki orientasi keagamaan Siwa-Buddha. Dalam penjelasan resmi Balai Pelestarian Kebudayaan, Candi Singosari dipandang sebagai kompleks percandian untuk pendharmaan Kertanegara, dengan sifat keagamaan Siwa; sebagian ahli, seperti W.F. Stutterheim, menilainya memiliki karakter Siwa-Buddha.kebudayaan.kemdikbud.go
Salah satu sumber penting mengenai pemaknaan bangunan ini adalah Prasasti Gajah Mada atau Prasasti Singhasari, yang bertarikh 1273 Saka atau 1351 Masehi. Prasasti tersebut menyebut pembangunan atau penyelesaian sebuah caitya oleh Rakryan Mapatih Mpu Mada—tokoh yang dikenal dalam historiografi sebagai Gajah Mada—untuk mengenang Kertanegara, para brahmana, pemuja Siwa-Buddha, dan pejabat yang gugur bersamanya.kebudayaan.kemdikbud.go+1
Dengan demikian, penjelasan yang lebih hati-hati adalah bahwa Candi Singhasari kemungkinan merupakan bangunan yang berkaitan dengan penghormatan terhadap Kertanegara, kemudian direnovasi atau disempurnakan pada masa Majapahit. Penyebutan bahwa candi ini “dibangun seluruhnya oleh Gajah Mada” perlu diperlakukan secara kritis karena prasasti lebih spesifik berbicara tentang caitya dan penyelesaian atau pembangunan bangunan suci dalam konteks Majapahit.
Arsitektur
Candi ini dibangun dari batu andesit dan terdiri atas beberapa bagian utama:
-
Batur berbentuk bujur sangkar, berukuran sekitar 13,85 meter pada setiap sisi dan memiliki tinggi kurang lebih 1,90 meter.
-
Kaki candi berdenah bujur sangkar dengan penampil pada empat sisi.
-
Pintu utama berada di sisi barat.
-
Pada bagian kaki terdapat relung atau ruang untuk arca.
-
Di dalam bilik terdapat yoni dan saluran air.
-
Tubuh candi berbentuk bujur sangkar dengan relung-relung semu.
-
Atapnya bertingkat dan berbentuk piramidal, tetapi bagian atasnya telah runtuh.
Ukuran dan uraian teknis tersebut berasal dari data inventarisasi dan penetapan cagar budaya yang dikutip oleh Balai Pelestarian Kebudayaan.kebudayaan.kemdikbud.go
Keunikan arsitekturnya terletak pada penempatan arca. Arca-arca keluarga Siwa tidak terutama ditempatkan di tubuh candi, melainkan pada relung di bagian kaki. Pola ini berbeda dari banyak bangunan suci Jawa lainnya. Bangunan tersebut juga menampilkan kesan menara atau prasada, dengan komposisi vertikal yang sering dihubungkan dengan gambaran Mahameru.kebudayaan.kemdikbud.go
Candi ini tampaknya tidak sepenuhnya selesai. Sejumlah bidang masih polos, beberapa ornamen belum dikerjakan secara tuntas, dan bagian atas bangunan mengalami keruntuhan. Di dalam atau sekitar kompleksnya pernah ditemukan sejumlah arca penting, termasuk Agastya, Ganesha, Durga, Nandiswara, Mahakala, dan lembu Nandi. Sebagian arca kini tidak lagi berada di lokasi, termasuk sejumlah koleksi yang dibawa ke Museum Leiden pada masa kolonial.